PEMBUATAN FOTO TEGAK (PIHAK KETIGA) PEMOTRETAN DRONE PADA KANTOR PERTANAHAN KOTA PADANG SIDIMPUAN

PEMETAAN UDARA & DIGITALISASI TAPAK BANGUNAN

Kantor Pertanahan Kota Padang Sidimpuan

DeskripsiProduksi orthophoto dan digitalisasi tapak bangunan dengan UAV Multirotor
Periode Pelaksanaan21 Januari – 21 Februari 2025
Durasi Proyek30 Hari Kerja
LokasiKota Padang Sidimpuan
Divisi PelaksanaPT Deira Sygisindo
  
CustomerInstansi Pemerintahan – Kantor Pertanahan Kota Padang Sidimpuan

Dalam rangka mendukung digitalisasi sistem pertanahan nasional, proyek ini dilaksanakan untuk memproduksi Peta Foto Tegak (Orthophoto) dan Digitalisasi Tapak Bangunan dengan memanfaatkan teknologi UAV (Drone) Multirotor berpresisi tinggi.

Melalui pendekatan fotogrametri udara dan pemrosesan geospasial terkini, proyek ini memberikan data spasial berkualitas tinggi yang sangat bermanfaat untuk perencanaan, administrasi aset, dan integrasi ke sistem informasi pertanahan.

Tujuan & Manfaat Utama

✅ Menyediakan visualisasi spasial terkini untuk wilayah kerja Kantor Pertanahan
✅ Mendukung proses inventarisasi aset dan validasi bangunan
✅ Menjadi dasar pengembangan Sistem Informasi Pertanahan berbasis geospasial
✅ Mempercepat transformasi digital layanan pertanahan secara akurat dan efisien

Kenapa harus profesi surveyor ? Karena dari dulunya sejak kita menggunakan T0, Total Station dan Waterpass kita sudah diajarkan bagaimana cara melakukan akuisisi Sudut dan Jarak yang baik dan benar agar menghasilkan koordinat yang akurat. Demikian juga dengan TLS, kita diharuskan menghasilkan data point cloud yang akurat agar dapat menghasilkan data 3D yang informatif. Misalkan data model 3D struktur bangunan yang akurat dapat menghasilkan informasi analisis, tentang seberapa besar kerusakan dan perkiraan penyebab dari kerusakan struktur bangunan.

Selain itu TLS juga memiliki metodologi pekerjaan yang lebih sederhana dibandingkan alat ukur lainya. Yaitu :

  1. Akuisisi data TLS. Pada saat akuisisi data TLS ini, kita disarankan menempatkan TLS di posisi yang menghasilkan overlap 40% dengan pengukuran sebelumnya. Agar menghasilkan model yang akurat
  2. Registrasi. Pada tahap ini data dari hasil akuisisi digabungkan. Bisa melalui registrasi koordinat tempat berdiri alat, atau biasanya menggunakan metode point to point yaitu menggabungkan setiap akuisisi berdasarkan bentuk yang sama, dihasilkan dari data overlap pada saat akuisisi.
  3. Georeferensi. Pada tahap ini kita kita mentransformasi koordinat lokal point cloud menjadi koordinat global.
  4. Filtering. Pada tahap ini melakukan seleksi point cloud yang dianggap noise ataupun objek yang tidak diinginkan dalam analisis nantinya.

Pemodelan 3D. Pada tahap ini point cloud yang telah difilter telah menghasilkan objek 3D yang akurat. Dari data model ini, dapat dianalisis untuk mendapatkan fenomena yang terjadi pada objek.

Tidak hanya TLS, akuisisi data dengan menghasilkan jutaan point cloud setiap detiknya pada survey pemetaan dapat juga dilakukan dengan metode backpack LiDAR, Drone Lidar, Mobile Scanning dll